Sabar Sedang Mencari...
Minggu, 15 September 2013

Habib Munzir dan Pengalaman Uniknya Saat Menimba Ilmu di Yam

habib munzir al muaswa

 Habib Munzir memang sudah meninggal dunia kemarin sore, 15 September 2013. Banyak kenangan tentang sosok ulama muda Jakarta ini. Pendidikan agama Habib Munzir dimulai lebih dalam setelah merasa bosan belajar di bangku SMP tidak tamat. Beliau selanjutnya tertarik mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, kemudian mengambil kursus bahasa Arab di LPBA Assalafy Jakarta Timur.
Beliau memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, yang dipimpin oleh Habib Naqib bin Muhammad bin Syehk Abu Bakar bin Salim. Setelah itu, Habib Munzir menimba ilmu di ma’had Daarul Musthofa asuhan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech Abubakar bin Salim, di Tarim Hadhramaut, Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari’ah selama 4 tahun.
Selama belajar di Yaman, beliau mempelajari Tafsir Al Qur’an, mempelajari ilmu hadits, Nahwu sharaf tata bahasa Arab, dan lain-lain, yaitu ilmu-ilmu pendukung untuk memahami ajaran agama Islam.
Setelah Kembali dari Yaman, Habib Munzir kembali ke Jakarta dan memulai merintis berdakwah mendatangi rumah warga dari pintu ke pintu. Pada tahun 1998. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan perjalanan dakwahnya, Habib Munzir mulai membuka majelis pengajian setiap Senin malam Selasa. Kemudian majelis pengajiannya itu diberi nama: Majelis Rasulullah, yang mana jamaahnya terdiri dari anak-anak muda.
Sewaktu Habib Munzir belajar agama Islam di Yaman itulah beliau punya pengalaman unik, yaitu beliau salah sangka terhadap seorang kakek. Nah, bagaimana ceritanya, mari kita simak langsung dari Habib Munzir berikut ini:
“Saat saya ke Tarim hadramaut yaman, (1994-1998), saya duduk hadir disuatu majelis yg penuh sarat dengan para ulama kelas satu, disana ada empat mufti, saya tidak mengenal mereka karena baru datang dari indonesia, karena halaqah sudah penuh padat, saya duduk dipaling belakang, di sebelah saya orang orang yg menyiapkan kopi dan suguhan untuk para hadirin, di sebelah mereka duduk seorang sepuh bertampang biasa saja, saya mencium tangannya bukan karena apa apa, tapi karena ia sudah sepuh.
Dalam hati saya membatin, bahwa dia ini bukan ulama apa apa, cuma sepuh saja, kalau dia ulama mestilah ia duduk dishaf depan atau terdepan, bukan duduk disebelah tukang pembagi kopi dg gelas gelas yg ribut dan air bertumpahan kemana mana.
Selepas majelis bubar, semua orang berdesakan menyalaminya, termasuk ulama ulama sepuh yg dishaf terdepan, saya bingung dan bertanya tanya, inikan cuma orang sepuh yg duduk dipaling belakang, ternyata ia adalah Almarhum Syeikh Fadhl ba fadhl, pimpinan majelis para mufti di Tarim hadramaut, ia pimpinan mufti, namun karena tawadhu dan rendah dirinya, ia tidak mau maju kedepan karena datang terlambat, saya jadi sangat malu..
Ringkasnya saudaraku, berhati hati atas ustaz yg mengajar hal hal yg mudah, mungkin ia mengajar hal yg mudah di jamaah itu, namun mengajar hal hal yg jauh diatas pemahaman kita di kelompok murid2 lainnya.
Guru Mulia kita pun pernah dan sering mencoba kedalaman ilmu muridnya, suatu ketika dalam pelajaran faraidh (ilmu waris), beliau bertanya pada murid-muridnya, coba hitung…, jika seorang wafat meninggalkan 3 anak pria, suami, istri, dan ayah, ayo jawab berapa masing masing bagiannya….?
Maka kami mulai meghitung cepat dan buru buru mengacung untuk menjawab, lalu ternyata jawaban kami satupun tiada yg benar,
Sambil tertawa beliau melihat kami yg kebingungan kenapa jawaban tiada yg benar??
Beliau menjawab dg bahasa arab yg kira kira maknanya : makanya, kalau ditanya itu pikir dulu, jangan sembarang hitung dulu kesana kemari, saya kan sebutkan seorang wafat, meninggalkan sekian anak, dan meninggalkan SUAMI, dan juga ISTRI, lalu siapa dia?
Kalau ia meninggalkan istri, berarti almarhum adalah suaminya, kalau ia meninggalkan suami, berarti yg wafat adalah istrinya, kalau ia meninggalkan suami dan istri, maka siapa dia?, pertanyaan ini harus direnungkan dulu sebelum dijawab…! Demikian ucapan beliau pada kami sambil tertunduk geli, kamipun tertawa dan terkecoh.
Di lain waktu, Guru Mulia mengajar Nahwu dasar, ada yg memang baru kenal nahwu, ada yg sudah mendalami nahwu, ada guru guru pakar syariah yg sangat mendalam dalam nahwu dan seluruh cabang lainnya ikut duduk saja hadir,
Beliau memberi contoh fi’il Amr, (kata ganti untuk perintah), hanya contoh kata saja, namun suara beliau ditekan, dan membuat murid murid senior yg sudah jauh melewati nahwu malah tertunduk menangis ketakutan….
Saya jadi bingung, ini kan pelajaran nahwu dasar, dan contoh yg diberikan hanya contoh fi’il amr, sayapun sudah tahu itu tapi diam saja karena tahu kedalaman ilmu beliau, namun kenapa para guru guru saya yg murid beliau juga, malah menunduk dan menangis ketakutan…??
Ternyata mereka mendalami makna ucapan itu, Guru Mulia mengajarkan contoh saja, kepada mereka yg masih belajar nahwu yg dasar, tapi menghantam dg pengajaran tajam pada para senior, ucapan beliau : beberapa contoh fi’il amr adalah : Ikhsya’…! Ikhdha’…!  Irqa’…! Dan beberapa contoh lainnya.
Bagi yg pemahaman ilmu nahwunya masih dasar, mereka hanya mencatat, tapi yg senior, menunduk ketakutan dan menangis, karena makna ucapan kalimat contoh itu adalah : Ikhsya’..!(khusyuklah..!!), Ikhdhah..! (Tunduklah pada Allah..!!), Irqa’..! (dakilah tangga keluhuran..!!),
maka para senior itu gemetar dengan kalimat kalimat itu, padahal beliau hanya memberi contoh saja pada mereka yg nahwunya di kelas dasar, tapi memberi ilmu makrifah pada yg kelas senior, dg ucapan yg sama…
Demikian samudera ilmu.., mengajar satu cabang ilmu, namun berbeda cabang ilmu yg difahami masing masing tingkatan..
Hamba pun sering begitu, mengulang ulang riwayat yg sama di satu majelis atau majelis yg berbeda, karena hamba tahu banyak di majelis itu yg belum jelas masalah itu dan perlu diulang, atau hamba tahu bahwa mereka ada yg terjebak hal itu dan butuh diingatkan, maka hamba menjawabnya dg pembahasan itu sebelum mereka bertanya, namun jika mereka menyimak, mereka akan mendapatkan jawaban atas apa yg belum mereka temukan jawabannya dari masalah mereka,
 Sumber:islam-institute.com/cerita-unik-habib-munzir-salah-sangka-terhadap-kakek-tua-di-yaman-islam-institute

0 komentar:

Poskan Komentar

berkomentarlah dengan sopan jika tidak punya blog/ website silahkan pakai :

name/ URL > lalu isi URL-nya dengan akun yang anda miliki.

terimakasih atas kerja samanya